Pengertian dan Jenis Stainless Steel

Variasi atau jenis Stainless Steel ternyata sangatlah beragam. Tentu saja masing-masing memiliki karakteristik juga kegunaan khususnya. Kegunaan Stainless Steel sebagai bahan baku barang besi sudah sangat meluas penggunaannya.

Kekebalan Stainless Steel terhadap karat menjadikan Stainless Steel bisa diandalkan. Lalu, apa Stainless Steel itu? Apa saja macam-macam Stainless Steel yang ada? Bagaimana karakteristik dan penggunaannya?

Semuanya akan dibahas dalam artikel ini.

Apa Itu Stainless Steel ?

Stainless Steel jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berarti baja nirkarat. Stainless steel termasuk salah satu material logam yang didapatkan dari hasil pencampuran bahan besi dengan krom dan beberapa bahan lainnya untuk mendapatkan material logam dengan sifat tertentu.

Seperti yang sudah diketahui, karat adalah musuh utama material logam. Pembuatan Stainless Steel dilakukan dengan tujuan mendapatkan besi dengan karakter kokoh dan tahan karat.

Tujuannya tentu untuk memunculkan material logam yang bisa digunakan pada bidang yang akan banyak mengalami kontak manusia atau bahkan sering terkena air.

Sifat lain dari Stainless Steel yang didewakan adalah sifat tahan asam. Penggunaan Stainless Steel untuk kontak pada bahan kimia tidak akan menyebabkan perubahan komposisi, warna, maupun rasa.

Bahan Stainless Steel juga tercipta untuk menjadi bahan yang kebal suhu tinggi serta mudah dibentuk.

Jenis-jenis Stainless Steel

Stainless Steel atau baja nirkarat banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti pada peralatan makan.

Dan ternyata, jenis dan pemanfaatan Stainless Steel tidak hanya berhenti disitu. Artikel ini akan memberikan penjelasan lengkap tentang jenis-jenis Stainless Steel yang biasa ditemui.

Austenitik

Austenitik bisa dikatakan sebagai yang paling populer dibandingkan jenis Stainless Steel yang lain. Perbedaan yang paling signifikan berada pada komposisinya yaitu krom sejumlah 18%, Nikel sejumlah 8%, sisanya tersusun dari nitrogen dan mangan.

Jenis Austenitik dipilih karena terbukti paling kebal korosi terhadap zat asam yang merupakan musuh terbesar material besi. Bahan penyusun material Austenitik ini menimbulkan sifat tahan suhu yang tinggi serta mudah dibentuk.

Stainless Steel Austenitik umum ditemukan pada perangkat di dapur dan peralatan memasak. Contoh paling sering ditemukan adalah wastafel di dapur dan oven. Kemudian karena sifatnya yang tahan asam, tangki kimia pun dibuat dengan bahan Austenitic Stainless Steel ini.

Ferritik

Persentase terbesar penyusun Stainless Steel jenis Ferritik ini adalah 10.5% karbon serta 27% kromium. Karena berada di grade yang rendah, maka harga Stainless Steel Ferritic cenderung terjangkau jika dibandingkan dengan seri 300.

Bahan penyusun Ferritic Stainless Steel membuat jenis ini memiliki kekuatan magnetik. Namun sayangnya, Stainless Steel seri 400 ini tidak tahan paparan panas yang tinggi. Suhu yang terlalu tinggi akan membuat lapisan pelindung terluarnya mengelupas dan menjadi rentan berkarat.

Karena ketahanannya akan korosi dan kekuatan fisiknya membuat jenis ini banyak digunakan pada kerangka konstruksi. Kemudian Stainless Steel seri 400 bisa dimanfaatkan sebagai knalpot kendaraan juga alat masak. Meski terkena panas, namun tidak terpapar api langsung.

Martensitik

Penyusun Stainless Steel Martensitik terdiri dari 0,1% sampai dengan 1,2% karbon tergantung jenisnya. Kemudian penyusun tambahannya adalah kromium sebesar 18% beserta bahan tambahan lainnya. Stainless jenis Martensitik bisa diolah untuk ditingkatkan kekuatannya.

Jika dibandingkan dengan grade yang berada di atasnya, material Martensitic tanpa campuran tidak memiliki daya tahan terhadap korosi. Stainless Steel ini pun tidak tahan las karena tidak memiliki daya tahan pada suhu yang terlampau tinggi.

Karena sifatnya yang rentan dengan panas, Martensitik digunakan pada peralatan yang tidak berkontak dengan api.

Salah satu penerapannya adalah pada pisau bedah. Selain itu, Stainless Steel martensitik juga bisa ditemukan pada alat makan sehari-hari seperti sendok, garpu, dan pisau mentega.

Duplex

Material penyusun Duplex digabungkan untuk mendapatkan material Stainless Steel tinggi krom dan rendah nikel. Tujuannya tentu saja untuk mendapatkan keunggulan dari Stainless Steel Austenitic dan Stainless Steel Ferritic. Meski begitu, grade nya tidak akan menyetarai Austenitik dan Feritik.

Stainless Steel jenis Duplex ini mengadaptasi sifat tahan korosi dari seri 300 atau Austenitik. Kemudian Duplex juga mengambil sifat kokoh yang dimiliki oleh seri 400 atau Ferritic.

Dengan begitu, material yang dihasilkan akan kokoh, tahan lama, namun harga patokan lebih terjangkau.

Dikarenakan Duplex merupakan hasil pencampuran, maka memiliki kelebihan dan bisa dimanfaatkan pada banyak bidang.

Salah satunya pemanfaatannya adalah peralatan di bidang kelautan dan perminyakan yang membutuhkan logam tahan korosi dan tahan panas.

Precipitation-Hardening

Sama seperti Duplex, Precipitation-Hardening juga merupakan hasil pencampuran untuk mendapatkan karakteristik yang dibutuhkan bidang industri tertentu.

Penyusunan material ini mencampurkan bahan utama Stainless Steel yang ditambahkan dengan Boron dan Titanium.

Precipitation-Hardening Stainless Steel mendapatkan kemampuan tarikan magnet tinggi. Sifat tersebut tentu saja didapatkan dari pencampuran Boron dan Titaniu.

Selain itu, jenis ini lebih tahan panas, dan pemrosesan menggunakan panas akan meningkatkan kekuatan tarikannya.

Aplikasi Precipitation-Hardening Stainless Steel jarang ditemui pada benda sehari-hari. Karena keunggulannya jenis ini digunakan untuk material benda yang tidak biasa.

Stainless Steel jenis ini bisa ditemukan pada piranti ruang angkasa dan baling-baling pada turbin juga pada pesawat.

Setelah mengetahui apa itu Stainless Steel, macam-macam Stainless Steel, karakteristik, dan manfaatnya, pasti akan meningkatkan pemahaman tentang logam yang satu ini. Penjelasan dalam artikel ini diharapkan bisa membantu saat akan memilih bahan Stainless Steel.


Info Menarik Lainnya:


Tinggalkan komentar